
Di tengah kesibukan akademik dan rutinitas kampus, Rabu itu terasa berbeda di Akper Patria Husada Surakarta. Sejak pagi, ruang kelas kampus telah dipenuhi dengan semangat yang lebih dari biasanya. Puluhan mahasiswa tingkat dua dan tiga duduk rapi, mengenakan seragam praktik mereka, menyimak setiap kalimat dari para praktisi keperawatan yang dihadirkan langsung dari salah satu rumah sakit swasta ternama di Solo — RS Dr. Oen Kandang Sapi Surakarta.
Dengan tajuk “Pelatihan Keperawatan Intensive Care”, kegiatan ini tak hanya menjadi ajang pembekalan teknis. Ia menjadi ruang bertemunya dua dunia: dunia pendidikan dan dunia praktik praktik rumah sakit — dua dunia yang sejatinya tak bisa dipisahkan dalam proses mencetak perawat yang tidak hanya cakap, tapi juga berjiwa.
Tiga narasumber hadir, masing-masing membawa pengalaman dan sudut pandangnya sendiri: dr. Yosa Angga Oktama, seorang dokter muda yang berpengalaman menangani berbagai pasien; Ns. Imam Subekti, perawat dengan ketenangannya dalam pelayanan; serta Ns.Sunarsi, Ketua Komite Keperawatan RS Dr. Oen Kandang Sapi Surakarta, yang telah mengabdi selama 29 tahun di rumah sakit tersebut.
Dalam sesi wawancara usai kegiatan, Ns. Sunarsi dengan lugas namun hangat menjelaskan bahwa pelatihan ini bukan hanya sekadar agenda seremonial antar institusi, melainkan bentuk nyata dari kerja sama mutualisme.
“Bagi rumah sakit, ini kesempatan melihat langsung potensi generasi baru—mahasiswa yang nanti bisa dijaring, dibina, dan mungkin bergabung dengan rumah sakit sekaligus sebagai penerus bangsa. Dunia kesehatan sekarang sangat kompetitif, maka kita harus lebih jeli dalam regenerasi tenaga profesional,” ujarnya.
Di sisi lain, mahasiswa pun mendapat banyak pengalaman. Mereka tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga membangun jejaring profesional, serta mengenal lebih dekat dinamika rumah sakit sebenarnya — hal-hal yang mungkin tidak selalu dapat diperoleh di ruang kelas.
Apa yang diamati Ns. Sunarsi hari itu menjadi catatan tersendiri. Ia menyampaikan kekagumannya atas inisiatif dan semangat mahasiswa Akper Patria Husada Surakarta. “Mereka aktif, responsif, dan tampak punya keinginan kuat untuk berkembang,” ungkapnya. Sebuah harapan besar muncul dari sana, bahwa generasi perawat berikutnya bukan hanya akan ahli secara teknis, tetapi juga punya jiwa yang kuat dan niat yang tulus dalam bekerja.
Materi utama dalam pelatihan ini pun sangat aplikatif: bagaimana menangani pasien secara efektif dan efisien di ruang perawatan intensif. Bukan hal yang sederhana, sebab rumah sakit adalah tempat di mana detik-detik bisa menjadi penentu kesembuhan. Di sinilah seorang perawat dituntut tidak hanya sigap, tetapi juga penuh empati dan tanggung jawab.
Namun lebih dari sekadar kecakapan teknis, pelatihan ini juga menanamkan nilai yang lebih dalam. Harapan terbesar yang disampaikan oleh para narasumber adalah agar mahasiswa kelak menjalani pekerjaannya dengan sepenuh hati. Karena menurut Ns. Sunarsi, “Kalau hati kita sudah sepenuhnya dalam pelayanan, maka ikhlas akan mengikut. Dan itu yang membuat perawat bertahan dalam segala tekanan.”
Pelatihan yang berlangsung satu hari ini, ia meninggalkan kesan yang panjang bagi para peserta: bahwa menjadi perawat bukan hanya tentang melakukan, tetapi tentang menjadi. Menjadi pribadi yang hadir secara utuh untuk orang lain di saat mereka rapuh. Dan dari kampus kecil di sudut Surakarta ini, mungkin sedang tumbuh perawat-perawat yang tak hanya bisa menyelamatkan nyawa, tapi juga menyentuh hati.

